Kamis, 07 Agustus 2014

Renungan dari ayat al-qur'an : nikmat teragung

يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُون
ِ
“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: “Hendaknya kalian memperingatkan, bahwasanya tidak ada Ilâh (sembahan) yang berhak diibadahi kecuali Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada-Ku.”.” [An-Nahl: 2]

Ayat di atas berada dalam Surah An-Nahl yang dikenal juga dengan nama surah An-Ni’am (penyebutan nikmak-nikmat Allah). siapa yang ingin merenungi dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah, cermatilah surah yang agung ini. Nikmat yang paling pertama disebut dalam Surah An-Nahl adalah ayat di atas yang menjelaskan nikmat diutusnya para rasul dengan membawa tauhid. Namun, banyak manusia tidak mengetahui bahwa mentauhidkan Allah dalam ibadah adalah nikmat Allah yang paling besar untuk seorang hamba.

Rabu, 06 Agustus 2014

Renungan dari Ayat Al-Qur'an : Mayat Berjalan

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
 

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’âm: 122]

Syahadat Laa Ilaaha Illallah, Makna, Rukun, Syarat dan Kesalahan-kesalahan dalam Penafsirannya


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Setiap muslim tentu menginginkan untuk masuk ke dalam surga dan selamat dari api neraka, untuk itu marilah kita memperhatikan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berikut ini,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir ucapannya (sebelum mati) adalah kalimat Laa ilaaha illallah maka dia akan masuk surga.” [HR. Abu Daud dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, Shahihul Jami’: 11425]

Jelaslah bagi kita bahwa kunci surga adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Ibarat sebuah rumah, surga memiliki pintu yang harus dibuka dengan sebuah kunci, itulah kalimat Laa ilaaha illallah. Akan tetapi, kenyataannya tidak semua orang yang memiliki kunci tersebut mampu membuka pintu surga, dikarenakan kunci mereka tidak bergerigi.

Sebab Laknat Terhadap Yahudi dan Nashara

وَلَهُمَا عَنْهَا قَالَتْ: لَمَّا نُزِلَ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيْصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ، فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا، فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ: (لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ) يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا، وَلَوْلَا ذَلِكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ ، غَيْرَ أَنَّهُ خُشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا. أَخْرَجَاهُ.
 

(Diriwayatkan) pula oleh keduanya (Al-Bukhâry dan Muslim) dari (Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ) bahwa beliau berkata, “Tatkala kematian Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah dekat, beliau pun menutupkan khamîshah di atas wajahnya. Namun, ketika nafasnya terasa sesak, beliau menyingkap khamîshah itu. Maka, dalam keadaan seperti itu, beliau bersabda,
‘Semoga laknat Allah ditimpakan terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.’
Beliau memperingatkan agar menjauhi perbuatan mereka. Seandainya bukan karena hal itu, niscaya kuburan beliau akan ditampakkan. Dikhawatirkan bila (kubur beliau) akan dijadikan sebagai tempat ibadah.”

Empat kebahagiaan

Nasihat Imam Asy-Syafi'iy

Imam Al-Muzany bercerita:“Aku menemui Imam Asy-Syafi’iy menjelang beliau wafat, lalu kubertanya, “Bagaimana keadaanmu pada pagi ini, wahai Ustadzku?”Beliau menjawab, “Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tahu: apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”Aku berkata, “Nasihatilah aku.”Asy-Syafi’iy berpesan kepadaku, “Bertakwalah kepada Allah, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua matamu, dan janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah. Takutlah terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah segalah hal yang Dia haramkan, laksanakanlah segala perkara yang Dia wajibkan, dan hendaknya engkau bersama Allah di manapun engkau berada.